Salah satu keunggulan Mikrotk dibanding dengan routerOS sejenis adalah kemudahan bagi admin untuk mengimplementasikan kemampuannya dalam mengatur penggunaan bandwidth. Mikrotik benar-benar memudahkan kita para admin jaringan baik tingkat beginner (seperti saya) maupun yang sudah pro.

Perhatikan screenshot berikut.

Skenario antrian traffik internet

Skenario antrian traffik internet

Ini adalah skenario antrian yang saya terapkan di salah satu SMP. Iya, ini disebut antrian, karena ibarat jalan raya, bandwidth yang kita peroleh dari ISP seberapapun besarnya akan selalu terasa sempit seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan yang melewati jalan tersebut.

Penjelasan kurang panjang dan kurang lebarnya adalah demikian. Semua komputer yang terhubung ke jaringan akan dikelompokkan.  Dalam hal ini, saya mengkelompokkan komputer/laptop para admin sebagai ADMIN, kemudian laptop-laptop guru saya kelompokkan sebagai GURU, sementara komputer-komputer di Lab. Komputer saya kelompokkan sebagai LABKOM. Kemudian komputer-komputer di TU saya kelompokkan sebagai TU dan semua komputer yang tidak termasuk dalam keempat kelompok tersebut saya kumpulkan sebagai PUBLIC.

Setelah semua komputer, laptop, atau bahkan perangkat mobile (smartphone, tablet, dll) kita kelompokkan, selanjutnya kita bikin lagi kelompok traffic yang akan menjadi sub-kelompok dari 5 kelompok komputer tadi. Kelompok traffic? maksudnya??. Begini, ngapain saja sih saat kita online?. Bisa macam-macam kan. Mulai dari yang klasik seperti browsing, nonton video streaming dari youtube, mendownload, mendengarkan radio streaming, chatting dan sebagainya. Inilah yang dalam hal ini saya sebut traffic. Jadi ada traffic browsing, traffic youtube, traffic download, dan seterusnya. Nah dengan kita mengelompokkan macam-macam trafik itu, kita bisa menerapkan kebijakan antrian lebih spesifik lagi.

Setelah kelompok dan sub-kelompok terbentuk, baru kita bisa bikin antrian. Antrian (selanjutnya saya sebut queue) mengandung pengertian yang lebih luas dari pada hanya sekedar membatasi bandwidth. Dalam konsep queue, kita menetukan kelompok apa yang kita prioritaskan penggunaan bandwidhtnya, trus dalam kelompok itu sub-kelompok traffik apa yang kita yang kita prioritaskan.

Dari gambar diatas, saya menentukan kelompok ADMIN mendapatkan prioritas pertama yang ditandai angka 1 pada kolom “priority”. Diikuti oleh kelompok GURU (priority 2), TU (priority 3), LABKOM (priority 4) dan terakhir PUBLIC (priority 5). Sedangkan pada masing-masing kelompok, traffic browsing menempati prioritas 1, diikuti traffic video, kemudian traffic download sebagai prioritas terakhir.

Tentu saja konsep queue ini adalah konsep yang saya terapkan berdasarkan kondisi ditempat saya. Anda bisa membuat konsep queue sendiri dengan memperhatikan beberapa hal. Seperti karakter user, kebiasaan user saat online, dan sebagainya.

Selain mengatur prioritas, yang tak kalah pentingnya, dalam queue, kita juga dapat menentukan besaran bandwidth buat masing-masing kelompok dan sub-sub nya.  Ini bisa kita lihat di kolom “limit at” dan Max limit”. Ada sedikit perhitungan matematis sederhana dalam penentuan keduanya yang tidak saya kemukakan di sini, namun intinya, parameter “limit at”  menentukan batasan minimal bandwidth untuk kelompok atau sub-kelompok. Bandwidth minimal ini akan diberikan oleh mikrotik apapun kondisi pemakaian bandwidth saat itu. Sehingga dapat dikatakan, parameter “limit at” menjamin tiap user atau tiap traffic mendapat jatah bandwidth yang besarnya (baca: kecilnya) ditentukan oleh nilai dalam parameter ini. Jadi saat bandwidth penuh oleh pemakaian kelompok tertentu atau sub-kolempok tertentu, kelompok lain atau sub-kelompok lain yang baru online akan mendapatkan bandwidht pula, minimal sejumlah yang ditentukan pada parameter “limit at”.

Dalam lingkungan Mikrotik queue, tiga parameter ini (priority, Limit at, dan max limit) sangat vital keberadaannya. Tanpa ketiganya atau salah satu dari ketiganya maka skenario queue yang kita terapkan bisa jadi tidak akan jalan.

Bagaimana cara membuat kelompok dan sub-subnya seperti diatas hingga saya bisa mencapai skenario yang saya inginkan itu? Silahkan ikuti terus artikel ini pada bagian lain (masih dalam pengerjaan) untuk melihat apa yang saya lakukan untuk mewujudkan skenario queue diatas. Pada bagian lain anda juga akan melihat bagaimana kita dapat memainkan “mark” dalam mangle mikrotik, membuat layer 7 untuk me-mark paket-paket download, memanfaatkan parameter address-list dari ip-ip user dan seterusnya. Setelah membaca seluruh artikel, saya berharap anda dapat membangun logika berpikir sendiri mengenai fungsi masing-masing parameter sehigga anda dapat menciptakan sendiri  skenario queue yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan anda.